Archive

Archive for the ‘Pemeriksaan’ Category

Beberapa kasus infertilitas hari ini.

03/02/2012 Leave a comment

Hari ini ada beberapa kasus yang kebetulan cukup menarik untuk dibagikan.

  1. Pasangan P 41th dan W 38th, menikah 4 tahun dan mengalami telah 2 kali keguguran pada usia kehamilan awal.  Keguguran terakhir 4 bulan yang lalu, setelah dilakukan kuretase, saya memberikan asam folat dan clomiphene citrat. Mereka datang dan sang istri mengatakan kalau menstruasi kali ini hanya bercak satu hari (kemarin). Analisis sperma 2 bulan lalu normal, dan ovulasi bagus karena menstruasi teratur. Kita membahas kemungkinan keguguran berulang. Beberapa penyebab yang mungkin adalah faktor usia (suami dan istri), kelainan endokrin dan kelainan uterus sang istri, auto immune, trombofilia dan genetik.  Setelah membahas rencana terapinya,  langkah pertama adalah melakukan tes kehamilan, berhubung sang istri belum “benar2″ menstruasi.  Dan…….. ternyata positif !.    Hamil, dengan risiko berulang?.  Untuk umur usia 38 risiko keguguran 20-40%, dan keguguran berulang dua kali 5% serta keguguran 3 kali 1 %.  Ya, kita berhati-hati dan berusaha memberikan yang terbaik untuk kasus ini.  Saat ini saya memberikan hormon progesteron pesari (per rektal), asam asetilsalisilat 80mg, dan multivitamin.  Semoga embrio berkembang menjadi janin dan bayi yang sehat.
  2. Suami istri yang 13 hari lalu melakukan inseminasi, mengirimkan SMS dengan menceritakan kalau beberapa hari ini mengalami mual, dan badan terasa tidak enak sehingga mereka melakukan tes kehamilan sebelum waktunya. Dan hasilnya masih negatif.  Saya menerangkan bahwa hasil negatif itu belum berarti apa-apa karena masih ada kemungkinan menjadi positif pada beberapa hari berikutnya.  Mual dan badan yang merasa tidak enak bisa saja dari tanda hamil, namun dapat juga merupakan efek samping karena kecemasan.
  3. Seorang suami yang masih cukup muda (32 th) mendapati hasil analis spermanya amat ‘memprihatinkan’ Asthenozoospermia. dengan motilitas 0/1/7/92.  Tidak sedikit para pria muda-sehat-atletis dengan sperma bermasalah disebabkan oleh varikokel, yaitu varises pada daerah testis yang menyebabkan pematangan sperma menjadi terganggu.  Sementara lebih jarang daripada kasus varikokel adalah masalah hormonal dan fungsi testis. Beberapa evaluasi yang kita lakukan adalah pemeriksaan riwayat kesehatan sebelumnya, adanya varikokel, pemeriksaan hormonal LH FSH dan Testosteron, sementara saya juga menganjurkan analisis sperma ulang.
  4. Pasangan suami istri (P 40th dan W 33th) mengalami infertilitas sekunder. Setelah evaluasi fisik dan hormonal didapatkan faktor pria yang nyata. Dan penyebab yang kita temukan adalah riwayat penggunaan obat anti kolesterol yang telah dikonsumsi lebih dari 4 tahun !. Setelah penghentian obat tersebut selama 4-5 bulan, kondisi sperma sekarang menjadi ‘hidup’ lagi, dari azoospermia (jumlah 0) menjadi asthenozoospermia (jumlah normal, namun kualitas kurang) . Selain masalah efek samping obat, kita dapatkan faktor okupasi (pekerjaan) sangat mempengaruhi, dimana polusi dari bahan-bahan bangunan dan kimia sangat nyata.

Setiap kasus infertilitas adalah unik, dan sangat bervariasi. Pendekatan evaluasi dan terapi tergantung pada banyak sekali faktor, oleh karena itu, tidak ada ‘standar baku’ algoritma pengelolaan yang 100% cocok untuk semua pasangan infertil.

Dr. D

Analisis sperma.. siapa takut!?

17/01/2012 1 comment

Banyak sekali alasan seorang suami untuk menghindari pemeriksaan sperma ini. Dari malu, sungkan, gengsi, atau karena alasan klasik bahwa penyebab infertilitas bukan karena dia, melainkan dari pihak istri.  Pada pria-pria seperti ini terkadang saya merasa kasihan karena saya yakin, sebenarnya mereka ingin masalahnya dibantu, penyebab infertilitas diketahui, dan dalam hati kecilnya yang paling dalam, mungkin mereka meragukan akan kesuburan sperma mereka. Namun ego lebih dominan sehingga terjadilah mekanisme pertahanan diri yang hal ini dapat merugikan diri sendiri.

Dari penyebab infertilitas keseluruhan, faktor pria andil sebesar 30%.  Banyak penyebab yang bisa mempengaruhi kualitas sperma. Obat-obat seperti anabolik steroid, hormon, cimetidin, spironolakton, isoniasid, calcium channel blockers, obat kemoterapi untuk pengobatan kanker, rokok, alkohol dan mariyuana sangat berpengaruh terhadap jumlah sperma. Bahkan saya pernah mendapatkan pasien dengan oligoasthenozoospermia berat oleh karena penggunaan obat penurun kholesterol yang dikonsumsi selama bertahun-tahun.

Riwayat operasi  misalnya repair hernia inguinalis, cedera vas deferens dapat pula menjadi penyebab, demikian pula penyakit menahun seperti gagal ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipo/hiper tiroid.  Penyebab lain yang cukup sering adalah pengaruh paparan kerja, misalnya pekerjaan di ruang kerja yang relatif panas, terpapar insektisida, pestisida, atau solven.   Varikokel atau varises di daerah testis, juga sering menjadi penyebab.

Oleh karena banyaknya kemungkinan penyebab yang dapat memperburuk sperma, maka tidak salah bila analisis sperma menjadi satu standar utama penyelidikan infertilitas.  Pada beberapa pasien saya mengatakan bahwa seharusnya analisis sperma adalah pemeriksaan pertama yang harus dilakukan karena mudah, murah dan tidak sakit…..  (dan pasien selalu tersenyum bila mendengarnya).

Di klinik fertilitas tempat saya bekerja, laboratorium menyediakan tempat untuk pasien mengeluarkan sperma.  Pengeluaran juga dapat dilakukan dirumah bila pasien bisa membawa spesimen dari waktu dikeluarkan sampai di laboratorium kurang dari 30 menit.  Pasien diminta untuk menahan ejakulasi kurang lebih 3 hari sebelum pemeriksaan. Hasil pemeriksaan normal analisis sperma menurut WHO adalah sebagai berikut:

Volume 2-5 cc, Jumlah  > 20 juta/ml; Motilitas > 50%; Morfologi > 40% normal; likuefaksi: 15-30 menit.

Bila dijumpai hasil analisis sperma yang kurang atau kurang baik, maka biasanya diperlukan pemeriksaan ulang 1 minggu sesudahnya pada keadaan yang lebih sehat/ nyaman guna mengkonfirmasi hal tersebut.

Perlu diingat bahwa apapun hasil analis sperma, sangat berguna untuk penentuan terapi, tindakan, dan pemilihan penatalaksanaan infertilitas.

Dr. D

Categories: Faktor Pria, Pemeriksaan

Infertil, tidak subur, kurang subur, mandul, kandungan kering ?

16/01/2012 4 comments

Hampir setiap dari kita mempunyai kenalan, teman atau saudara yang sering mendapat ‘cap’ seperti di atas.  Bahkan mungkin beberapa dari pembaca sedang mengalami masalah tersebut. Biasanya pasangan yang sudah cukup lama berusaha dan belum medapat momongan akan ‘malas’ menghadiri acara-acara keluarga atau kondangan, karena repot untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan  masalah “kenapa kok belum punya momongan?” sampai “sudah minum jamu ini? buah itu? madu ini? atau apapun yang orang berpendapat bisa ‘menyembuhkan’

Infertilitas, atau ketidaksuburan, apakah itu suatu penyakit? Yang jelas, infertilitas adalah suatu hal yang akan sangat mengganggu dari kehidupan berumah tangga. Bila hal ini terjadi akan menyebabkan pasangan merasa tidak ‘utuh’ untuk membentuk sebuah keluarga, karena ketidak hadiran atau belum hadirnya sang buah hati.  Banyak gangguan perasaan dan pikiran dapat timbul sebagai efek sampingnya, perasaan bersalah, kecewa, curiga, depresi, atau kecemasan yang berlebihan.  Hal ini tentu saja sangat berpengaruh pada semua kehidupan seseorang atau pasangannya.

Infertilitas diderita oleh kurang lebih 1 dari tiap 7 pasang suami istri, insidensinya semakin meningkat pada dekade terakhir.  Hal ini diduga oleh karena masalah perubahan sosial dan perilaku yang terjadi di masyarakat, misalnya usia menikah lebih tua, penundaan kehamilan, promiskuitas yang berujung pada infeksi menular seksual, dan perilaku (diet dan olahraga) yang tidak sehat.

Pada dasarnya, diagnosis infertilitas ditegakkan bila pasangan belum dikaruniai anak meskipun telah melakukan hubungan seksual secara teratur (2-3 kali dalam 1 minggu) tanpa kontrasepsi selama lebih dari 1 tahun. Bila ini terjadi, maka perlu pendekatan medis, guna menyelidiki problem yang ada.  Pada beberapa kasus, misalnya usia salah satu atau kedua pasangan  sudah lebih dari 35 tahun,  atau terdapat gejala atau keluhan adanya gangguan kesuburan, maka pemeriksaan dapat dimulai sebelum 1 tahun. Gejala-gejala tersebut misalnya pada wanita adalah menstruasi yang tidak teratur atau tidak normal, nyeri (dismenore), keputihan atau gejala infeksi lain.  Pada pria, keluhan dapat berupa adanya masalah pada saat hubungan seksual, seperti disfungsi ereksi atau disfungsi ejakulasi.

Pada dasarnya penyelidikan masalah infertilitas difokuskan kepada apa kemungkinan penyebab infertilitas.  Bila hal itu dapat ditemukan dan diberikan terapinya, niscaya kehamilan akan terjadi.  Namun, pada beberapa kasus, masalah tidak dapat ‘diobati’ sehingga kehamilan spontan alami tidak mungkin lagi akan terjadi.  Pada kasus semacam ini, maka dunia medis memiliki pelayanan yang disebut Teknologi Reproduksi Berbantu (Assisted Reproduction Technology).

Pemeriksaan yang mungkin dilakukan pada sang istri adalah : Anamnesis riwayat kesehatan reproduksi, menstruasi dan kesehatan alat reproduksi, pemeriksaan ginekologi, pemeriksaan patensi tuba (Histerosalphingografi/Pertubasi/Hidrotubasi), Ultrasonografi, pemeriksaan darah rutin dan hormon darah bila diperlukan.

Pemeriksaan pada suami: Anamnesis masalah kesehatan seksual, keluhan infeksi, dan pemeriksaan laboratorium (darah dan analisis sperma).  Bila mengarah pada masalah sperma (dan ini masalah yang paling sering terjadi dari infertilitas faktor pria) maka diperlukan pemeriksaan testis (adakah varikokel) dan pemeriksaan hormon darah.

Oleh karena banyak keadaan  yang harus diperiksa pada pemeriksaan  kasus infertilitas, maka penanganan infertilitas ini terkadang memerlukan usaha , pikiran, waktu, tenaga, dan tentu saja biaya yang banyak.  Disinilah tugas seorang dokter untuk dapat mengerti kebutuhan pasien.  Terkadang pemeriksaan dapat dilakukan step by step yang terarah dengan gejala dan tanda, bila satu langkah setelah evaluasi tidak didapatkan jawaban, baru beralih ke langkah selanjutnya. Hal ini sepertinya membutuhkan biaya yang lebih ‘ekonomis’, namun akan mengorbankan waktu yang lebih banyak.  Pemeriksaan juga dapat dilakukan menyeluruh dalam tempo yang cepat. Dibandingkan dengan langkah yang pertama, cara ini akan terkesan lebih cepat, namun membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal-hal seperti ini yang membuat pemeriksaan dan penanganan infertilitas sangat beragam dan harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Bagi saya, manapun cara yang dipakai, harus kita diskusikan dulu dengan pasien, yang paling penting adalah tujuan tercapai yaitu kehamilan, tanpa memberatkan atau membuat pasien kesulitan.

Masih banyak lagi yang dapat kita bahas, semoga sedikit informasi di atas dapat membantu bagi yang sedang menjalani masa ‘sulit’ dan jangan lupa untuk selalu saling mendukung, menjaga harapan,  berdoa dan berusaha.

Salam

Dr.D

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers