Archive

Archive for 17/01/2012

Akhirnya hamil setelah menyerah berusaha.

17/01/2012 18 comments

Tidak sedikit pasien saya mengalami hal seperti ini. Setelah induksi ovulasi beberapa bulan, atau inseminasi beberapa kali, bahkan setelah menjalani bayi tabung dan gagal, …… lalu pada beberapa bulan berikutnya atau yang ekstrim persis pada bulan berikutnya malah hamil !!

Tiada kata lain yang perlu diucapkan, selain … Selamat bu, saya ikut senang dapat berpartisipasi dalam usaha ibu…….  dan saya sangat gembira ibu sekarang bisa hamil.

Biasanya pasien akan bertanya kenapa ini bisa terjadi dok?
Baiklah… sangat sulit untuk menjelaskansecara tepat  kenapa hal ini bisa terjadi, dan pasti pengalaman dan kejadian pasien satu dan yang lain pasti tidak sama. Namun beberapa hal melintas di pikiran saya,
Emosi yang stabil
Kita semua tahu bahwa menjalani program infertilitas yang sangat rumit, banyak usaha, kesakitan, ketidak nyamanan dan tentu saja biaya, akan menimbulkan situasi emosi yang tidak stabil. Orang mengatakan seperti naik roller coaster…. perlahan-lahan semangat dan harapan naik sampai tinggi dan jatuh cepat ketika ternyata hasil negatif.  Ini sangat menyakitkan apalagi untuk memulai program berikutnya. Tidak sedikit studi yang menghubungkan stress dengan infertilitas.  Ketika seseorang sangat menginginkan kehamilan, dan timbul stres yang nyata, semakin stress akan semakin sulit untuk dapat hamil.  Hal ini bisa berlangsung berputar-putar seperti lingkaran setan.  Namun ketika seseorang dapat melepaskan keinginan yang sangat kuat dan mencapai stabilitas emosi maka hormon dan pikirian tubuh akan sangat membantu untuk dapat mendorong tubuh berfungsi secara optimal, yang berarti kehamilan.
Tindakan yang berkaitan
Meskipun terkadangi inseminasi atau bayi tabung tidak berhasil, namun jangan lupa bahwa untuk persiapan ke tindakan tersebut banyak treatment yang dilakukan seperti tindakan ginekologi, histerosalphingografi, atau laparoskopi.  Histerosalphingografi, pada beberapa kasus dapat ‘membuka’ tuba ovarium yang sebelumnya kurang lancar, bahkan saya teringat pasien saya yang mengalami infertilitas beberapa tahun, hanya dengan satu pemeriksaan HSG tadi dan belum mendapat terapi apapun, sudah mendapati dirinya hamil pada siklus berikutnya.  Kita tahu bahwa laparoskopi banyak manfaatnya, selain diagnosis, laparoskopi juga dapat membantu melepaskan perlengketan, menghilangkan myoma uteri dan kista ovarium, bahkan dapat memperbaiki struktur dan fungsi tuba.  Induksi ovulasi yang dilakukan secara simultan juga terbukti mempunyai efek yang baik terhadap pemberntukan telur. Pada kenyataannya diperlukan waktu paling tidak 3 bulan (siklus) perkembangan  folikel primordial sampai  menjadi folikel  dominan.

 

Medikasi dan perubahan diet dan perilaku

Pemberian obat-obatan seperti induksi ovulasi, multivitamin, antibiotik, hormon untuk spermatogenesis, perubahan diet dan perilaku. Untuk meningkatkan kesuburan, biasanya saya meminta pasien merubah diet menjadi lebih sehat dan menjalani perilaku yang lebih teratur. Menjauhi makanan berlemak, banyak makan makan segar, menjauhi polusi seperti merokok.  Saya biasanya mengatakan bagi perokok….. Jangan kurangi rokok anda ! … (senyum sebentar untuk memberi waktu mereka terheran-heran) …… jangan hanya dikurangi, tapi hentikan !!!).

Semua perubahan ke arah yang baik itu itu terkadang tanpa disadari cukup untuk membuahkan peningkatan kesuburan pada bulan-bulan berikutnya.

Jadi bagi semua pasien, yang belum hamil, jangan merasa gagal bila pada satu tindakan ternyata belum berhasil. Tetaplah berpengharapan dan jalani kehidupan sehari-hari dengan hati yang gembira dan tetap optimis karena memang kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari mendatang, kecuali untuk tetap berusaha.

Karena pepatah mengatakan bahwa “Sebenarnya yang kita miliki adalah hanya hari ini,  kemarin adalah sejarah, dan besok adalah impian”

Dr.D

Categories: Terapi Infertilitas

Analisis sperma.. siapa takut!?

17/01/2012 1 comment

Banyak sekali alasan seorang suami untuk menghindari pemeriksaan sperma ini. Dari malu, sungkan, gengsi, atau karena alasan klasik bahwa penyebab infertilitas bukan karena dia, melainkan dari pihak istri.  Pada pria-pria seperti ini terkadang saya merasa kasihan karena saya yakin, sebenarnya mereka ingin masalahnya dibantu, penyebab infertilitas diketahui, dan dalam hati kecilnya yang paling dalam, mungkin mereka meragukan akan kesuburan sperma mereka. Namun ego lebih dominan sehingga terjadilah mekanisme pertahanan diri yang hal ini dapat merugikan diri sendiri.

Dari penyebab infertilitas keseluruhan, faktor pria andil sebesar 30%.  Banyak penyebab yang bisa mempengaruhi kualitas sperma. Obat-obat seperti anabolik steroid, hormon, cimetidin, spironolakton, isoniasid, calcium channel blockers, obat kemoterapi untuk pengobatan kanker, rokok, alkohol dan mariyuana sangat berpengaruh terhadap jumlah sperma. Bahkan saya pernah mendapatkan pasien dengan oligoasthenozoospermia berat oleh karena penggunaan obat penurun kholesterol yang dikonsumsi selama bertahun-tahun.

Riwayat operasi  misalnya repair hernia inguinalis, cedera vas deferens dapat pula menjadi penyebab, demikian pula penyakit menahun seperti gagal ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipo/hiper tiroid.  Penyebab lain yang cukup sering adalah pengaruh paparan kerja, misalnya pekerjaan di ruang kerja yang relatif panas, terpapar insektisida, pestisida, atau solven.   Varikokel atau varises di daerah testis, juga sering menjadi penyebab.

Oleh karena banyaknya kemungkinan penyebab yang dapat memperburuk sperma, maka tidak salah bila analisis sperma menjadi satu standar utama penyelidikan infertilitas.  Pada beberapa pasien saya mengatakan bahwa seharusnya analisis sperma adalah pemeriksaan pertama yang harus dilakukan karena mudah, murah dan tidak sakit…..  (dan pasien selalu tersenyum bila mendengarnya).

Di klinik fertilitas tempat saya bekerja, laboratorium menyediakan tempat untuk pasien mengeluarkan sperma.  Pengeluaran juga dapat dilakukan dirumah bila pasien bisa membawa spesimen dari waktu dikeluarkan sampai di laboratorium kurang dari 30 menit.  Pasien diminta untuk menahan ejakulasi kurang lebih 3 hari sebelum pemeriksaan. Hasil pemeriksaan normal analisis sperma menurut WHO adalah sebagai berikut:

Volume 2-5 cc, Jumlah  > 20 juta/ml; Motilitas > 50%; Morfologi > 40% normal; likuefaksi: 15-30 menit.

Bila dijumpai hasil analisis sperma yang kurang atau kurang baik, maka biasanya diperlukan pemeriksaan ulang 1 minggu sesudahnya pada keadaan yang lebih sehat/ nyaman guna mengkonfirmasi hal tersebut.

Perlu diingat bahwa apapun hasil analis sperma, sangat berguna untuk penentuan terapi, tindakan, dan pemilihan penatalaksanaan infertilitas.

Dr. D

Categories: Faktor Pria, Pemeriksaan